Cerita tentang Kampung Inggris (Bagian 2)

Selain les kesibukan lainnya adalah main dong tentunya. Untuk ukuran desa pare itu cuku maju. Di sana ada beberapa cafe, tempat karoke, toko buku dan banyaaak tempat makan enak juga murah tentunya. Cafe yang paling terkenal disana adalah Bali house. Sesuai dengan namanya suasana disana juga dibuat seperti di pulau dewata. Tempat duduknya yang lesehan dan wifi nya yang kenceng membuat bali house selalu ramai padahal sih menurut gue makanannya biasa aja dan lama dibuatnya. Selain itu ada juga singgahan, wakapo, cafe clasic, nyaman cafe selain cafe2an banyak juga tempat makan murmer dan enak ada ayam penyet ibu tien, ketan susu yang selalu ramai setiap sore dan warung sumatra yang murah dan enak.

Kalo mau gowes sepeda rada jauhan sih ada bebek goreng yola, baso tetelan di depannya, rawon maknyus deket ATM BRI dan srengseng dan balungan khas Kediri. Oh yah di alun-alun pare juga bisa jadi tempat kuliner yang seru setiap pagi ada susu murni dan susu kedelai hangat yang enak dan nasi pecel maknyuss. Tentu itu semua dijual dengan harga yang jauuuuh lebih murah dari di Bandung.

Di Pare juga gue bisa menikmati sensasi naik odong-odong !! yah odong-odong yang di Bandung cuman bisa dinaiki anak kecil disana bisa dinikmati segala usia. Odong-odong di pare mirip seperti kereta-keretaan di Taman lalu lintas namun di tarik oleh sepeda motor. Ukurannya sendiri cukup panjang terdidi dari 3 gerbong yang setiap gerbong ada 3 baris tempat duduk. Dengan membayar Rp.2000 kita bisa berkeliling desa tulungrejo, Pare. Atau mau lebih jauh lagi ? bisa kok ! dengan membayar Rp.15000 kita bisa pulang pergi gumul sekitar sejam untuk sampai gumul dengan sensasi odong-odong niscaya akan membuat anda masuk angin setelahnya.

Di Desa Tulungrejo, Pare, Kediri ini juga tersedia fasilitas umum yang lengkap, mulai dari Rumah Sakit, Kantor Pos, Mini market dan toko buku. Di sebelah pintu gerbang Zeal Girl ada Toko Al-Amin grosir segala macam kebutuhan sehari-hari lalu di ujung jalan brawijaya sebelah cafe singgahan ada mini market Krisna. Di depan sekitaran jalan raya atau kira-kira 15 menit gowes sepeda ada Indomaret dan Alfamart.

Sepeda adalah alat transportasi yang utama, maka kelayakan sepeda menjadi sangat penting disana. Jangan sampai menenteng sepeda karena ban kempes di saat matahari sedang cantik-cantiknya terjadi pada Anda.

Saat akhir pekan biasanya para siswa di Kampung Inggris mengunjungi banyak objek wisata disana antara lain Gua Surowono ataupun jalan-jalan ke Kediri. Kota Kediri sendiri walaupun tidak semaju kota besar tapi cukup memadai untuk sekedar makan-makan atau nonton. Ada Sri Ratu Mall dan Kediri Mall. Di sana juga ada Gramedia dan Bioskop. Jangan bayangakan bioskop seperti 21 yah. Bioskopnya bernama Golden dengan tiket yang dijual berupa lembara kertas tipis dan uniknya kita bisa memilih sendiri tempat duduknya ketika masuk ke ruang theater. Dan yang lebih mengesankan adalah layarnya yang di tutupi tirai seperti panggung pertunjukan. Layar tersebut akan terbuka ketika film dimulai dan tertutup ketika film selesai. Lumayan deh di sana gue bisa nonton film The Raid setelah 2 bulan ditayangin di bioskop kota besar x))

Satu bulan pertama terlewati dengan sangat baik dan itu membuat gue memutuskan untuk menambah 1 bulan berikutnya. Di sini gue belajar bahwa people easy come and easy go. Adaptation is a must. Bulan kedua ini roomate gue pulang ke kota asalnya, lalu teman-teman camp juga mulai berganti. Roomate gue di bulan kedua ini adalah seorang kakak yang berasal dari Kalimantar Barat. Di bulan pertama ini juga gue pergi ke Bromo. Salah satu target di tahun ini berhasil di laksanakan *yeay* mission accomplished.

Baca juga:

Comments

comments